Ketua Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Samosir Ajak Perkuat Keterhubungan Bonapasogit dan Perantau
"Kami merasakan masih ada kesinambungan yang perlu diperkuat antara Bonapasogit dan perantauan. Bonapasogit adalah asal-usul marga Simbolon. Jangan sampai sumber itu terlupakan," ujarnya kepada wartawan

Laksamana Pertama TNI (Purn.) Marhuale Simbolon, S.Pi.
BEKASI KOTA,pelitarakyat.co.id – Ketua Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Samosir, Laksamana Pertama TNI (Purn.) Marhuale Simbolon, S.Pi., menghadiri Deklarasi dan Pelantikan Pengurus Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi di Gedung Graha Sintesa, Kota Bekasi, Minggu (19/7/2026) yang lalu. Kehadirannya bersama rombongan sekaligus menyampaikan ucapan selamat atas terbentuknya kepengurusan parsadaan tersebut.
Di sela-sela acara ramah tamah, Marhuale Simbolon menjelaskan pandangannya mengenai pentingnya menjaga keterhubungan antara masyarakat Batak di Bonapasogit (kampung halaman) dengan warga yang berada di perantauan.
Menurutnya, hubungan tersebut perlu terus diperkuat karena Bonapasogit merupakan asal-usul dan sumber sejarah marga Simbolon.
“Kami merasakan masih ada kesinambungan yang perlu diperkuat antara Bonapasogit dan perantauan. Bonapasogit adalah asal-usul marga Simbolon. Jangan sampai sumber itu terlupakan,” ujarnya kepada wartawan.
Marhuale mengibaratkan marga Simbolon sebagai pohon beringin yang besar. Cabang, ranting, daun, dan buah menggambarkan warga Simbolon yang tersebar di berbagai daerah, sedangkan batang dan akar melambangkan Bonapasogit sebagai penopang utama.
“Kalau akar dan batangnya tidak dijaga, bagaimana pohon itu bisa tetap kokoh? Filosofi inilah yang menjadi dasar berdirinya Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe di Bonapasogit,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan organisasi tersebut diharapkan mampu mempererat hubungan antara masyarakat Simbolon di kampung halaman dengan warga yang berada di berbagai daerah.
Marhuale juga mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Samosir yang menetapkan daerah tersebut sebagai titik nol peradaban Batak.
“Kalau Kabupaten Samosir menjadi titik nol peradaban Batak, maka penting bagi seluruh keturunan Batak, termasuk marga Simbolon, untuk tetap menjaga hubungan dengan akar sejarah dan budayanya,” ujarnya.
Organisasi Harus Menjadi Sarana Perbaikan
Menanggapi terbentuknya Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Bekasi, Marhuale menilai setiap organisasi baru hendaknya hadir dengan semangat memperbaiki dan melengkapi, bukan menjadi wadah persaingan ataupun konflik.
“Kalau ada organisasi baru, harus dimaknai sebagai upaya memperbaiki dan mengembangkan pelayanan kepada anggota, bukan membawa semangat balas dendam atau perpecahan. Dengan cara itulah organisasi dapat berkembang dan memberikan manfaat,” katanya.
Menurutnya, keberadaan organisasi kekerabatan harus menjadi media mempererat komunikasi, membangun kebersamaan, dan menjaga nilai-nilai adat di tengah masyarakat.

Persaudaraan Berdasarkan Ikatan Darah
Dalam kesempatan itu, Marhuale juga mengingatkan bahwa identitas marga merupakan simbol persaudaraan yang harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun golongan.
Ia menjelaskan bahwa marga bukan sekadar nama keluarga, melainkan penanda hubungan darah yang menyatukan seluruh keturunannya.
“Tidak ada kepentingan lain yang seharusnya berada di atas ikatan darah. Apa pun profesi, jabatan, pangkat, maupun keyakinan seseorang, sebagai keturunan Simbolon kita tetap memiliki hubungan persaudaraan yang harus dijaga,” tuturnya.
Ia berharap seluruh keturunan Simbolon, baik yang tinggal di Bonapasogit maupun di perantauan, dapat terus memperkuat rasa kebersamaan, menjaga komunikasi, serta melestarikan nilai-nilai adat dan budaya Batak sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Deklarasi dan pelantikan Pengurus Parsadaan Simbolon Sipitu Sohe Boru Bere Bekasi diharapkan menjadi momentum untuk mempererat hubungan kekeluargaan serta memperkuat sinergi antara masyarakat Simbolon di kampung halaman dan perantauan dalam membangun organisasi yang berlandaskan persatuan, pelayanan, dan pelestarian budaya.(01/R)